Bamsoet berterima kasih kepada Mahkamah Agung untuk kinerja tahunannya

Bambang Soesatyo, Presiden TRIBUNNEWS.COM-MPR di Jakarta, memuji kinerja Mahkamah Agung dalam Laporan Tahunan Mahkamah Agung 2019. Salah satu keberhasilan Mahkamah Agung adalah mengurangi jumlah kasus yang tidak ada dari 20.275 menjadi 217 pada tahun 2019. “Penyelesaian Mahkamah Agung layak untuk diadvokasi. Pada 2019, Otoritas Moneter berhasil menyelesaikan puluhan ribu kasus baru. Dalam sejarah Mahkamah Agung, kasus tersebut telah ditetapkan dan hanya jumlah kasus yang diblokir saat ini yang dapat dikurangi menjadi Level ini. Jika lembaga peradilan lain belajar dari Otoritas Moneter, ini tidak buruk, “kata Bamsoet. Rapat khusus Laporan Tahunan Mahkamah Agung RI 2019 Laporan Tahunan diadakan di Jakarta pada hari Rabu (26/2/2).

Koko Widodo, Wakil Presiden Indonesia, menghadiri pertemuan tersebut. Ma’ruf Amin Presiden DPR Puan Maharani, Presiden DPD La Nylala Mattalitti, Manajer Umum Menko Polhukam Mahfud, Menkum HAM Yasonna Laoly, Seskab Pramono Anung, Ketua KPK Tumpak Panggabean, Jaksa Agung ST Burhanuddin dan mantan hakim. Ketua Parlemen Republik Indonesia 2014-2019 juga menghargai kelanjutan Mahkamah Agung atas prosedur reformasi. Terutama dalam realisasi pengadilan elektronik, ia menggunakan teknologi informasi dalam modernisasi sistem peradilan.

“Pengadilan elektronik berdasarkan pada file elektronik (mendaftarkan kasus secara online di pengadilan), pembayaran elektronik (pembayaran online), panggilan elektronik” (panggilan online ke pihak) dan perselisihan elektronik (pengadilan online) telah memodernisasi sistem peradilan Indonesia. Bamsoet mengatakan: “Pada saat yang sama, itu mempercepat kecepatan memperoleh informasi, mempercepat kecepatan pemrosesan dan akurasi kasus, dan menghindari kemungkinan korupsi di peradilan.” — Wakil Presiden Pemuda Pancasila mengingatkan Mahkamah Agung untuk tidak cepat berpuas diri dengan cepat Masih ada banyak area dalam sistem peradilan Indonesia yang perlu ditingkatkan, termasuk akses mudah ke informasi dari sistem peradilan, kecepatan dan ketepatan penanganan kasus, dan mentalitas korup dalam peradilan

“Jangan biarkan lambatnya reformasi menghasilkan hasil Digunakan sebagai cabang peradilan utama oleh Mahkamah Agung memaksa orang untuk mencari keadilan di jalan. Oleh karena itu, jika dikritik oleh semua pihak, Mahkamah Agung harus selalu berani dalam mengkritik diri sendiri, mereformasi, dan tidak kebal dari imunisasi, “kata Bamsoet.

Kepala Departemen Pertahanan Nasional FKPPI menegaskan bahwa menurut Pasal 1, paragraf 3 Konstitusi Nasional Anti-Rasisme 1945, Indonesia adalah negara yang diperintah oleh hukum dan warganya selalu didirikan berdasarkan saluran hukum, tidak berdasarkan individu atau kelompok. Keinginan. Dalam aturan hukum, hakim dan lembaga peradilan adalah “wakil Tuhan.” Tanggung jawab adalah kehidupan setelah kematian. Tidak hanya untuk manusia, tetapi juga untuk Tuhan Yang Mahakuasa. Bamsoet mengatakan: “Kesehatan dunia peradilan akan membuat kehidupan negara dan negara harmonis.”

Wakil Ketua SOKSI juga mengingatkan hakim untuk selalu bijak dalam pengambilan keputusan. Selain prinsip keadilan hukuman, proses peradilan menekankan pembalasan atau sanksi terhadap penjahat. Proses peradilan juga mengakui keadilan restoratif dengan menyelesaikan tindakan kriminal dengan cara yang bermanfaat bagi Harkamtibmas dan kepentingan publik lainnya dan mengabaikan proses pidana. korban. Sebaliknya, itu dapat melindungi korban dan pelaku dari jatuh ke dalam undang-undang labirin yang represif. Oleh karena itu, hukumannya tidak hanya balas dendam, tetapi juga bagian dari pengajaran dan penciptaan solusi yang harmonis bagi kehidupan orang-orang.

Leave a Comment

download game adu ayam_s128live_situs sabung ayam online