Bamsoet mendorong Pancasila untuk dimasukkan ke dalam kurikulum wajib belajar

Jakarta, TRIBUNNEWS.COM-Bambang Soesatyo, Ketua Musyawarah Rakyat Indonesia, mendesak dikembalikannya Pendidikan Moral Pancasila (PMP) melalui “pendidikan tinggi” sebagai mata pelajaran wajib bagi Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas. Sejak diundangkannya Undang-Undang Sisdiknas No. 20 tahun 2003, hilangnya disiplin PMP telah melemahkan fondasi negara, Penyebabnya adalah kurangnya pemahaman ideologi bangsa generasi Pancasila. Sejak diundangkannya UU No. 20/2003. Konferensi Permusyawaratan Rakyat Indonesia saat ini sedang mendorong PMP menjadi mata kuliah wajib lagi di berbagai jenjang pendidikan. Tanpa memahami ideologi, negara kita seperti kapal besar yang tersesat di tengah laut, kompas tanpa arah. Bamsoet sebenarnya menyelesaikan sosialisasi empat pilar Musyawarah Permusyawaratan Rakyat Indonesia Himpunan Mahasiswa Muda Pancasila. (SAPMA PP), dari Kantor Presiden MPR RI, Jakarta, Senin (20/6/20) general manager SAPMA PP lainnya. Aulia Arief dan Sekretaris Jenderal SAPMA PP Willy Danandityo. Kali ini hampir diikuti oleh ratusan pengurus SAPMA PP .

Mantan presiden DPR RI ini menuturkan, munculnya kembali disiplin PMP akan semakin memperkuat pelaksanaan MPR RI sejak tahun 2004. Sosialisasi Empat Pilar MPR RI. PMP akan menyasar mahasiswa sekaligus sosialisasi Empat Pilar MR RI untuk seluruh lapisan masyarakat, sehingga landasan kebangsaan dan pengembangan karakter serta jati diri bangsa Indonesia semakin kuat. Sumberdaya akan lebih mampu, cakap, berakhlak mulia dan berakhlak mulia Pemuda adalah motor penggerak dan penggerak pembangunan, yang akan menentukan nasib masa depan bangsa, sekaligus Pancasila adalah ideologi, visi hidup dan landasan bangsa. Menjadi tolak ukur dan pedoman bagi generasi muda untuk mencapai cita-cita dan cita-cita bangsa yang dilindungi UUD. Kepala Kementerian Ketahanan Nasional FKPPI menjelaskan bahwa kehidupan modern menyelimuti pesatnya laju dan kemajuan semua bidang kehidupan, serta tantangan merawat dan membesarkan Pancasila semakin realistis. , Globalisasi dan perkembangan teknologi menyediakan produk dan gaya hidup yang dikemas sedemikian rupa sehingga terkesan menarik, terutama bagi generasi muda.

“Jika kita ceroboh dan cuek, nilai-nilai asing ini akan berakhir. Dengan merusak jati diri, tradisi dan budaya, moralitas dan warisan kearifan lokal bangsa. Nilai Pancasra hanya ada di ruang utopis, dan sila menjadi jauh di dalam hati, namun implementasinya sepertinya tidak benar. Bamsoet .

Wakil presiden Pemuda Pancasila menjelaskan bahwa salah satu upaya untuk menunjukkan nilai-nilai Pancasila adalah dengan merealisasikannya di berbagai bidang, khususnya di bidang pendidikan. Ada pepatah yang sama di semua belahan dunia bahwa pendidikan merupakan faktor kunci dalam kemajuan suatu negara. Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan bahwa salah satu tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.Oleh karena itu, setiap warga negara, tanpa memandang status sosial, ras, ras, agama, atau jenis kelamin berhak memperoleh pendidikan yang bermutu, termasuk Pendidikan pemikiran Pancasra tidak hanya sebagai bahan hafalan atau pemahaman, tetapi juga praktik penerimaan dan penghayatan. Bamsoet menjelaskan, meskipun kebiasaan masih menjadi ciri khas masyarakat Indonesia, tetap harus dikembangkan. Dan Perguruan Tinggi (Menristekdikti) dalam “Pengembangan Ideologi Nasional” edisi ke-55 tahun 2018 menetapkan bahwa di bawah pengawasan kepala sekolah, semua kampus harus membentuk Unit Kegiatan Mahasiswa Pengawal Ideologi Nasional (UKM-PIB). Organisasi kemahasiswaan di luar kampus diperbolehkan mengikuti ideologi Pancasila melalui UKM-PIB dan menjadi bagian darinya.a, “kata Bamsoet.

Leave a Comment

download game adu ayam_s128live_situs sabung ayam online