Taklukkan Jakarta dengan bubur ayam

TRIBUNNEWS.COM-Kawasan Jalan Mentawai di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tidak terlalu ramai pada Sabtu pagi (7/7). Hanya beberapa orang yang lewat. Banyak gerobak makanan berbaris untuk menjaga jarak dari pinggir jalan. — Ketua Konferensi Permusyawaratan Rakyat Indonesia, Bambang Soesatyo, yang terlihat di kanal YouTube Bamsoet, tampak ditemui usai melangkah pergi. Bamsoet duduk di kursi plastik dan memesan semangkuk bubur ayam.

“Pesan buburnya. Tidak pedas.” Bamsoet memberitahu penjual bubur ayam Mang Obek.

Bamsoet mendengar cerita Mang Obek saat makan bubur ayam, sudah lebih dari 20 tahun pindah dari Cirebon ke Jakarta. Mang Obek dengan bangga menaklukkan Jakarta dengan bubur ayamnya. Awalnya, ia bekerja pada pedagang bunga yang pernah bergelantungan di kios bunga di kawasan Mahakam, Kebayoran Baru sebelum reformasi. Hingga akhirnya, kios tempatnya bekerja diusir Pemprov DKI Jakarta dan diubah menjadi taman kota.

Sejak saat itu, ia mulai menjual bubur ayam miliknya sendiri untuk menggerakkan setir. Dia menggunakan modal ratusan ribu dan gerobak dorong untuk membeli dengan mencicil. Bersama Mpok Iin yang juga berasal dari Cirebon dan baru saja menikah, memulai perjalanan hidupnya dengan berjualan bubur ayam dan empal gentong. Baru pada Sabtu dan Minggu pagi dia tinggal di kawasan Jalan Mentawai Mahakam Kebayoran Baru. Sejak pandemi Covid-19 atau Corona, Mang Obek mengaku pendapatan dagangannya merosot tajam. Lakukan pertukaran dengan Rp. Dalam 300-500.000 hari, Obg Mang dan istrinya bisa mendapat untung Rp jika beruntung. 100.000 Rp. 200.000 per hari.

Sebelum korona terjadi, Mang Obek bisa berjualan setiap hari. Setelah Pemprov DKI di Jakarta melakukan serangan korona dan memberlakukan pembatasan sosial skala besar (PSBB), Mang Obek hanya menjual barang pada hari Sabtu dan Minggu.

“Karena Corona diobral setiap hari, barang biasanya tidak dijual untuk umum. Hari libur, Sabtu dan Minggu; Alhamdulillah, Sabtu dan Minggu bubur ayam kita terus habis,” kata Mang Obek.

“Saya mengirimkan uang SPP dari uang perdagangan di desa. Kedua anak saya membeli seorang petani dan ayah tiga anak ini berkata:” Dari hasil perdagangan bubur beras dan penaklukan Jakarta, saya bisa berangsur-angsur pindah ke desa. Bangun rumah dan sawah. Namun, akibat Covid-Pandemic pada tanggal 19, Mang Obek mengaku sulit mengirim uang ke kampung halamannya. Penghasilannya turun drastis. Hal yang sama terjadi pada anak pertama yang memilih bekerja dengan profesi yang sama dengannya.

Leave a Comment

download game adu ayam_s128live_situs sabung ayam online