BPH Migas: Tidak ada penjualan bahan bakar, penjualan DKI Jakarta turun 50%

Laporan oleh reporter Tribunnews.com Reynas Abdila-Jakarta TRIBUNNEWS.COM-Fanshurullah Asa, kepala Otoritas Pengatur Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) pada dasarnya menjelaskan bahwa jenis bahan bakar permintaan umum (JBU) telah turun tajam. — Menurutnya, itu tidak luput dari pengaruh pembatasan sosial skala besar (PSBB) dalam upaya untuk memutus rantai Covid-19.

Fanshrullah mengatakan dalam obrolan virtual di Jakarta pada hari Jumat (5 Agustus 2020): “Penjualan JBU turun 34% dari tahun lalu menjadi sekitar 663.812 KL, dan mencapai 1.004.146 KL pada 2019. “Penjualan harian JBU (seperti Premium Jalami, Pertalite Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, Pertamina Dex) turun menjadi 22.127 KL dari 34% setahun yang lalu.

Baca: 14 ABK WNI Explorations memiliki pengalaman di kapal nelayan Cina yang telah kembali ke Indonesia

Baca: Tonton episode 13 “The Bride and Groom” gratis: Tren Kleptomania Joon Young mengungkapkan

“Menurut Catatan Pertamina, di DKI Jakarta, penjualan bisa dikurangi hingga 50%, “tambahnya. Jumlahnya terbatas dan industri telah kembali bekerja normal. Dia memperkirakan bahwa itu tidak akan berubah sampai akhir tahun ini, dan cadangan minyak Indonesia akan meningkat. Dia menambahkan: “Masalahnya adalah ketika semuanya sudah penuh, kita perlu tempat untuk menyelamatkan. Kapal sudah penuh. Produksi yang diserap akan membawa kita ke keseimbangan baru.”

BPH Migas menunjukkan bahwa dengan Arab Saudi Dibandingkan dengan Saudi, cadangan minyak mentah Indonesia saat ini hanya serendah 3,3 Gbbl, dan masih ada jalan panjang dari 266,5 Gbbl Arab Saudi. -Dalam keadaan normal, Indonesia masih perlu mengimpor sekitar 750.000 barel per hari untuk memenuhi permintaan.

Leave a Comment

download game adu ayam_s128live_situs sabung ayam online