Permintaan garam meningkat, dan Kementerian Perindustrian mendorong peserta IKM untuk meningkatkan kualitas

Laporan wartawan Tribunnews.com Lita Febriani-Jakarta TRIBUNNEWS.COM-Kementerian Perindustrian mendesak peningkatan produksi dan kualitas garam dalam negeri.

Doddy Rahadi, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian, mengatakan untuk garam industri dan garam konsumen, pasar garam dalam negeri semakin berkembang. Dodi mengatakan dalam keterangan resminya, Senin (29 Juni 2020): “Dengan tren permintaan garam yang semakin meningkat, diperlukan upaya lebih lanjut untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas produksi, serta meningkatkan produksi dalam negeri.” Guna mendorong peserta IKM dalam pengolahan garam Untuk proses transformasi dan adopsi digital, Surabaya Industrial Research and Standardization Center (Baristand Industri) merupakan bagian kerja dari Kementerian Perindustrian BPPI. Pada tahun 2020, diselenggarakan sosialisasi online hasil penelitian Surabaya Industrial Baristand (Dolan BISby). Acara ini dihadiri 180 peserta dari instansi pemerintah, pelaku industri, peneliti atau insinyur, pemerhati garam, dan akademisi.

Menurut Doddy, pengolahan garam di industri garam harus menggunakan teknologi yang tepat, efisien, dan modern untuk mendorong produktivitas dan kualitas.

“Uji inovasi kandungan garam beryodium pada garam nabati bertujuan untuk membantu industri kecil dan menengah (IKM) mengontrol kualitas produknya. Dengan tetap menjaga kualitas produk, daya saing produk IKM secara alami akan meningkat,” kata Dodi. — Terkait pelaksanaan riset dan inovasi, Doddy menambahkan, Baristand Industri Surabaya harus menjalin kerjasama atau jaringan koordinasi dengan industri dan instansi terkait (termasuk pemerintah daerah).

Bacaan: Gunakan garam sebagai pengganti scrub untuk mengangkat sel kulit mati, dan perhatikan perubahan kulit setelah mandi

agar hasil penelitian bisa efektif mengatasi masalah industri.

Aan Eddy Antana, Kepala Industri Baristand Surabaya, mengatakan pihaknya terus bekerja keras untuk berperan aktif mendukung upaya pemerintah dalam memajukan dan meningkatkan kualitas garam nasional.

“Salah satu tantangan IKM konsumsi garam yodium adalah perlunya meningkatkan pengawasan mutu produk jadi terutama pada uji KIO3 (kalium iodat),” jelas Aan sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) 3556 -Untuk konsumsi garam beryodium tahun 2010, untuk bahan kering, kebutuhan KIO3 minimal adalah 30 mg / kg (adbk).

Namun, menurut Aan, usaha kecil dan menengah di Tanah Air gagal mencapai SNI dalam keterampilan tertentu di bidang pengolahan garam, sehingga sulit bersaing di pasar. Oleh karena itu, Baristan Industri Surabaya (Baristand Industri Surabaya) membuat alat uji KIO3 dengan menggunakan titrator otomatis sesuai dengan metode titrasi SNI 3556-2010.

Alat uji dilengkapi dengan sensor warna dan penghitung langkah. Sensor warna akan membaca perubahan warna pada akhir proses titrasi dan mengeluarkan perintah untuk menghentikan titrasi.

Informasi yang dihasilkan oleh sensor warna dan sensor jarak akan dikirimkan ke perangkat lunak yang telah terintegrasi ke dalam perangkat lunak. Mikrokontroler digunakan untuk menghitung konten KIO3 dalam sampel garam.

Baca: Taruh saja irisan garam di dapur dan hasilnya luar biasa! Berdasarkan pengujian yang dilakukan, titrator otomatis KIO3 memiliki performa desain yang baik dan dapat memberikan hasil pengujian verifikasi metode untuk memenuhi persyaratan akseptabilitas akurasi, presisi, dan pengulangan. – “Titrator otomatis ini juga telah terbukti menghasilkan nilai uji KIO3 yang stabil,” jelas Aan.

Kementerian Perindustrian berharap dapat meningkatkan produksi garam nasional dari 2,8 juta ton menjadi 3 ton, 5 juta ton pada tahun 2024.

Leave a Comment

download game adu ayam_s128live_situs sabung ayam online