Asparindo menduga pasar tersebut merespons setelah Covid-19 menyebar cluster tersebut

Reporter Tribunnews.com Rina Ayu melaporkan-Jakarta, TRIBUNNEWS.COM-Pasar tradisional dan tempat keramaian lainnya menjadi tempat berkumpulnya penyebaran Covid-19. General Manager Asparindo Y. Joko Setiyanto menjelaskan alasan mengapa pasar berpotensi tinggi penyebaran virus corona.

Dia mengatakan pasar Indonesia tidak dirancang untuk kondisi pandemi Covid-19. Begitu pula dari perspektif menyesuaikan jarak antar pedagang.

“Pasar tidak dirancang untuk menghadapi pandemi. Bayangkan koridornya hanya 2 meter, 1 meter, 1,5 meter, dan pedagang berdampingan. Dia bahkan berkata dalam diskusi virtual:” Bahkan tidak ada pasar yang berventilasi buruk di pasar. pasar. Dia berkata: Topeng terus digunakan di pasar tradisional.

— Baca: Untuk mencegah munculnya klaster baru, Pokja Covid-19 dan Pemprov DKI Minta Pemeriksaan Rutan KPK

Meski begitu, Joko tetap mengatakan bahwa pihaknya terus merambah ke pengusaha. Informasinya, kenakan masker saat melakukan aktivitas pemasaran. Ia mengatakan: “Memakai topeng adalah cara hidup baru yang harus kita yakini, dan kita perlu menjadi teladan dari atas.” Baca: Muhammadiyah Gugat Pemerintah atas Pilkada Klaster PPP: Manfaat Stakeholder-juga mensyaratkan para pemimpin atau kepala daerah seperti gubernur, gubernur, dan bupati untuk bekerja sama memberikan contoh yang baik, mendata dan mengawasi.

“Kepada gubernur, walikota dan pembuat kebijakan daerah lainnya, dia berkata:” Ini untuk kebaikan bersama. “-Sejauh ini, jauh dari data Asparindo, ada 7,2 juta pedagang di seluruh Indonesia. Sedikitnya 13.000 pasar tradisional.

Leave a Comment

download game adu ayam_s128live_situs sabung ayam online