Kalaupun donasi bertambah, BPJS Kesehatan mengaku masih defisit

Reporter Tribunnews.com Seno Tri Sulistiyono melaporkan-Jakarta TRIBUNNEWS.COM-BPJS Kesehatan masih akan menghadapi kekurangan dana sekitar Rp 185 miliar hingga akhir tahun ini.

Faktanya, BPJS Kesehatan telah menaikkan biaya peserta mandiri.

Baca: Dirut Garuda: Singgah di Penerbangan dan Stagnan Kegiatan Ekonomi

“Sampai akhir tahun diperkirakan membaik, tapi defisitnya masih Rp 185 miliar,” Ketua Kesehatan Fachmi Kata Idris saat rapat dengan Panitia DPR IX DKI Jakarta, Kamis (11/6/2020).

Fachmi mengatakan masih defisit fiskal, dan pertumbuhan sumbangan peserta ke BPJS Kesehatan masih lebih rendah dari penghitungan aktuaria. 286.085 IDR, level II, senilai IDR 184.617 per bulan, level II IDR 137.221 per bulan.

Pada pertemuan yang sama, dalam sambutan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, sumbangan ke BPJS Kesehatan belum ditentukan berdasarkan perhitungan aktuaria.

“Jika ingin asuransi kesehatan Anda aman dan sesuai, Anda harus menghitungnya sesuai dengan ini,” kata Muhadjirm.

Menurut Muhadjir, kontribusi aktuaria saat ini merupakan kelangkaan pemerintah. Karena kendala finansial, tentunya tidak bisa selamanya ditanggung oleh pemerintah. — “Tentu saja kemampuan finansial yang ada tidak bisa terus menanggung beban itu. Bukan berarti pemerintah tidak bertanggung jawab,” kata Muhadjir.

Kita tahu bahwa pemerintah telah memutuskan untuk meningkatkan kontribusi BPJSSanté. Peserta Mandiri Tipe I naik menjadi Rp 150.000.

Kelas II meningkat menjadi Rp.1.000, dan Kelas III juga meningkat dari Rp. 25.500 sampai Rp. 42.000. Distribusi di Indonesia-Namun, pemerintah memberikan subsidi 16.500 rupee untuk kategori ketiga, sehingga tetap membayar 25.500 rupee.

Namun, pada tahun 2021 mendatang, subsidi yang dibayarkan pemerintah akan berkurang menjadi Rp. 7000, jadi peserta harus membayar Rp 35.000.

Leave a Comment

download game adu ayam_s128live_situs sabung ayam online