Alat pajak yang dievaluasi dapat mendorong inovasi dalam produk yang muncul

Reporter Tribunnews.com Laporan Reynas Abdila

Danny Darussalam (DDTC) Bawono Kristiaji, mitra Layanan Penelitian dan Pelatihan Pajak di TRIBUNNEWS.COM-Pusat Pajak di Jakarta, percaya bahwa langkah-langkah perpajakan dapat mempromosikan kemunculan produk-produk inovatif. Kepentingan umum. — Menurutnya, pemerintah harus mendukung pengembangan inovasi produk dengan eksternalitas negatif yang rendah. -Baca: Pajak untuk sepeda, pakaian selam, dan penggerebekan, cerita sepeda masa lalu – memungut pajak alternatif yang lebih rendah untuk produk yang berdampak positif bagi masyarakat juga merupakan salah satu caranya.

“Karena popularitas Covid-19, produk-produk inovatif juga dapat meningkatkan daya saing, yang juga merupakan kondisi yang diperlukan untuk bertahan hidup setelah krisis. Juga penting untuk merancang alat keuangan untuk mengendalikan eksternalitas negatif,” kata Bawono. Pernyataan pada hari Rabu (7 Januari 2020).

Bowono mengatakan bahwa ketika dia berbicara tentang upaya untuk mencegah eksternalitas negatif atau memperkuat kontrol perilaku, pemerintah dapat menggunakan sarana keuangan. Ini menyimpulkan fungsi reguler, yaitu, fungsi fiskal disesuaikan ke arah yang lebih baik untuk mendorong dan mengendalikan kegiatan ekonomi.

Jika eksternalitas produk pengganti lemah, produk tersebut juga harus menanggung pajak atau beban yang lebih rendah. — Ini adalah bentuk insentif bagi produsen untuk terus berinovasi dengan menampilkan produk dengan eksternalitas negatif yang rendah.

“Desain ini akan memberikan dua keuntungan. Pertama, perilaku konsumen akan berkembang menjadi produk dengan eksternalitas yang lebih lemah. Kedua, produsen akan didorong untuk berinovasi produk baru yang kurang berbahaya,” kata Bawono.

Kebijakan desain ini telah diterapkan dalam kebijakan Pajak Penjualan Kendaraan Mewah Indonesia (PPnBM).

Dalam peraturan terbaru yang dikeluarkan tahun lalu, dasar penerapan PPnBM tidak lagi berdasarkan ukuran kendaraan, tetapi tergantung pada jumlah emisi gas buang atau konsumsi bahan bakar.

Ini berarti bahwa mobil dengan emisi gas buang yang lebih rendah memiliki tarif pajak PPnBM yang lebih rendah daripada mobil berbahan bakar fosil.

Sebelumnya, Heru Pambudi, direktur Administrasi Umum Kepabeanan Kementerian Keuangan, mengungkapkan bahwa ia berencana untuk merumuskan kebijakan untuk menerapkan pajak konsumsi yang lebih rendah pada plastik nabati.

Baca: Netflix dan lainnya akan menerapkan peraturan wajib pajak mulai hari ini

Saat ini, walaupun harganya relatif tinggi, kantong plastik yang terbuat dari sayuran sudah ada di pasaran.

“Itu sebabnya Anda dikenakan biaya lebih rendah sehingga orang sibuk beralih industri termasuk industri,” kata Heru.

Leave a Comment

download game adu ayam_s128live_situs sabung ayam online