Penerimaan negara turun 13,7%, dan defisit APBN tembus Rp 682,1 triliun

Wartawan Tribunnews.com Yanuar Riezqi Yovanda melaporkan-Jakarta, TRIBUNNEWS.COM-Kementerian Keuangan menyatakan penerimaan negara masih sesuai dengan ekspektasi, yakni pengadaan, karena semua pelaku usaha dan wajib pajak berada dalam tekanan. -Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa pada September 2020, pendapatan nasional turun minus 13,7% menjadi 1.159 crore rupee.

“Pendapatan nasional adalah 1.159 crore rupee, kontraksi 13,7%, atau presiden mencapai 68,2%. Dia mengatakan dalam rapat itu tujuan dari Keputusan Nomor 72. Kantor Berita Virtual, Senin (19/10/2020) .- — Sementara itu, belanja negara menunjukkan pada September 2020 belanja negara akan mencapai Rp1841,1 triliun atau meningkat 15,5%. -Lihat juga: Sri Mulyani: World Financial Institutions UU penciptaan lapangan kerja direspon positif-Sri Mulyani menjelaskan bahwa pemerintah telah mempercepat belanja secara signifikan pada kuartal ketiga untuk menjadi mesin ekonomi sebelum akhir tahun.

“Jika Melihat rincian belanja publik, pemerintah pusat bahkan mengalami kenaikan lebih dari 20% atau 21,2%, dan belanja daerah untuk transfer ke daerah mulai menunjukkan positif 5,8%, ujarnya.

Lihat juga: Kesempatan kerja yang tidak pasti bagi pekerja baru dan klaim atas tanggapan positif dunia terhadap Undang-Undang Penciptaan Ketenagakerjaan

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia menambahkan bahwa neraca fiskal negara telah mencatat negatif Saldo dasarnya adalah 447,3 triliun rupee dan defisitnya 4,16%. Defisit keseluruhan mencapai 682,1 triliun rupiah, dan defisit 4,16%. Ini masih sesuai dengan Keputusan Presiden No. 72. 682,1 triliun atau 4,16%. Ingat, di negara lain, proporsi ini bahkan lebih dari 12% atau bahkan 20%.

Leave a Comment

download game adu ayam_s128live_situs sabung ayam online